Selamat Datang di Website Kami

Polres Jaktim Siap Lakukan Pendisiplinan Warga Saat Masa Transisi

10 June 2020

by Ridwan Surianto

IMG_20200610_170645

Kringserse.com – Jakarta .   : Kapolres Metro Jakarta Timur, Kombes Pol Arie Ardian Rishadi,  S.I.K menegaskan pihaknya akan mengupayakan pendisiplinan masyarakat pada masa transisi jelang penerapan normal baru. Pendisplinan itu akan dilakukan oleh TNI bersama Polri selaku Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) Kota Adminitrasi Jakarta Timur.

“Pendisiplinan masyarakat di masa transisi pada  tempat-tempat keramaian dilakukan penjagaan dan dilakukan pendisiplinan,” jelas Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Pol Arie Ardian Rishadikepada Pemred Media Kringserse melalui hubungan telepon seluler sebelum kegiatan anev vicon di Mapolres Metro Jakarta Timur,  Rabu (10/6/2020) siang.

Kapolres juga menjelaskan, masa transisi pasca pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang telah usai, berbeda dengan PSBB di mana ada pengetatan di setiap lokasi check point keluar dan masuk kota Jakarta.

Menuju pola tatanan kehidupan baru yang disebut masuk era new normal life yang diberlakukan ini,  Polri dan TNI akan melakukan pengawasan di pusat keramaian, misalnya tempat ibadah, stasiun kereta api,  pusat perbelanjaan modern hingga pasar tradisional.

Kapolres menambahkan,  nantinya di mall hingga pasar akan diawasi bagaimana penerapan physical distancing hingga protokol kesehatannya.

“Masyarakat yang tidak pakai masker diingatkan. Di mall-mall, misalnya yang kapasitasnya 1.000 supaya taat physical distancing harus 500 orang saja, manajemen mall supaya bisa mengontrol itu. Di pasar, pedagang harus pakai face shield dan metode pengaturan jalur keluar masuk, one way,” jelas perwira menengah berpangkat melati tiga itu.

Kapolres pun menjelaskan bahwa ada sekitar 500 personel yang diturunkan. Namun jumlah ini masih akan ditambah personel dari Kodim dan Satpol PP Jakarta Tmur.  Sementara untuk patroli yang dilakukan, Kapolres  menyebut pihaknya lebih mengedepankan pada tindakan yang persuasif. Sedangkan untuk penegakan hukumnya, menjadi langkah terakhir yang dilakukan.

“Ada patroli kita imbau, persuasif, edukatif, humanis, solutif. Kalaupun ada penegakan hukum itu menjadi instrumen yang terakhir dan penegakan hukumnya harus solutif. Karena ini kan bukan pelanggaran pidana tapi perilaku untuk hidup sehat. Jadi harus solutif juga orang kan cari makan, jadi harus humanis dan solutif,” ungkap mantan Kapolresta Bndara Soekarno Hatta.

“Masyarakat harus menyadari kalau polisi melakukan penegakan hukum itu sebenarnya untuk melindungi dan menyelamatkan jiwa raganya dan jiwa raga orang lain. Ini kan bukan barang, tapi ini menyangkut nyawa kalau kita sakit terus orang lain tertular atau orang lain sakit kita tertular ini yang harus kita pahami makanya kita perlu disiplin dan penegakan hukumnya itu persuasif,” pungkasnya.***(Ridwan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *