Selamat Datang di Website Kami

Sisi Lain Kehidupan di Ibukota Terdampak PSBB , ” SIANG JADI PEMULUNG MALAM MANUSIA GEROBAK “, Inilah Penelusuran Tim KS Peduli

03 May 2020

by Ridwan Surianto

Kaki_Manusia Grobak_Mengais Rezeki Ramadhan
 KRINGSERSE (JAKARTA)  – Sisi kehidupan malam di wilayah Ibukota Jakarta dan sekitarnya selama masa pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan larangan mudik ditengah pandemi virus corona (covid-19) pada malam  ke 10 bulan Ramadhan 1441 H,  Sabtu (3/5/2020) malam menjelang dini hari menyisakan dinamika kehidupan masyarakat miskin. 
Pemberlakuan PSBB dan larangan mudik 2020 ternyata berdampak pada perekonomian dan pendapatan sebagian masyarakat yang biasa mengais rezeki pada malam hari, khususnya malam suci Ramadhan, bulan penuh berkah dan sedekah serta amaliah. Inilah penulesuran Tim Media Kringserse (KS) pada malam  ke 10 bulan Ramadhan menyusuri jalan-jalan ibukota dan sekutarnya (Tangerang,  Bekasi dan Depok).

 

Pada tahun-tahun sebelumnya, bila memasuki bulan suci Ramadhan, malam menjelang berbuka hingga dini hari menjelang sahur suasana malam hari begitu semarak.
Memasuki waktu berbuka,  disetiap masjid dan mushola,  pusat perbelanjaan dan pabrik  ajan terlihat kegiatan umat menyediakan Takjil atau maknan untuk berbuka puasa. Biasanya hal itu berlaku sampai menjelang malam takbir. 

Ratusan bahkan ribuan umat Islam yang berduyun-duyun memenuhi masjid dan mushola untuk melaksanakan ibadah sholat taraweh.
Suasana kegembiraan dan kebahagiaan yang berjalan bertahun-tahun itu,  kini tidak lagi ditemukan. 
Masjid -masjid megah yang biasa dipenuhi umat yang beribadah  dengan kendaraan berbagai merek kini tak satupun yang terpajang parkir dihalaman.
Bahkan pada sebagian besar masjid yang menjadi tumpuan dan harapan masyarakat miskin dan papah untuk mendapatkan rezeki sunyi pintu gerbngpun tertutup rapat. Disetiap pintu hanya tertulis ” MAKLUMAT ” terkait dengan ancaman bahaya penyebaran virus corona (covid-19).

Pada pekan pertama bulan puasa hingga menjelang Lebaran dari tahun ke tahun, ada sisi lain kehidupan di sepanjng jalan ibukota dan sekitarnya dihiasi keberadaan manusia gerobak tidak ada habisnya.
Berbekal hasil partisipasi iklan di media,  dan uang  kas redaksi. Dengan beberapa Amplop yang sudah disiapkan Tim berisi satu lembar uang  Rp. 50.000 setiap amplop dan puluhan nasi bungkus. 

Berbekal keberanian dan niat ikhlas untuk peduli kemanusiaan.  Tim mulai  bergerak  dari Daan Mogot Tangerang menyusuri jalan raya Daan Mogot hingga terminal  Grogol, dilanjut hingga jln. Gajah Mada  berputar jln. Hayam Wuruk. Dilanjut ke arah Senen,  Cempaka Putih,  Pulogadung hingga Pulogebang , terus berputar menyusuri jln by pass hingga Cawang mengarah sepanjng jlan inpeksi Kalimalang hingga berarkhir di pintul gerbang tol Bekasi Barat. Penyelusuran berakhir karena bekal puluhan amplop pun sudah tidak ada yang tersisa.

Tim Media perlu keberanian, karena suasan jalan yang sangat sepi,  kendaraan yang melintas pun terpacu kencang dan dapat dihitung jari.

Dengan tetap jaga jarak, Tim mencoba mendengar obrolan keluhan masyarakat yang disebut manusia gerobak. 
Keberadaan mereka dengan harapan uluran tangan dermawan saat sahur on the road pada malam hari.

Bagi sebagian orang tentu menilai manusia gerobak tahu persis momentum yang tepat bagi warga Jakarta bersedekah.

Malam Ramadhan Warga kota sedang bermurah hati dengan sedekah dan zakatnya. Manusia gerobak biasanya mangkal di pinggir-pinggir jalan dengan suami -istri,  ada pula membawa semua keluarganya.

Ayahnya membawa gerobak diisi istri dan anak-anaknya. Sedangkan anaknya rata-rata di atas tiga orang dan masih kecil-kecil dengan usia sebaya.

Sebagian masyarakat ada yang simpatik dengan memberi sebagian rizkinya. Tapi ada juga yang merasa keberadaan mereka hanyalah modus saja.

Manusia gerobak sebenarnya sebagian besar berasal dari para pemulung. Kalau profesi pemulung sih tidak masalah bahkan membantu warga kota dalam kebersihan dan mereka bekerja keras.

Wabah virus corona yang terus menghantui masyarakat, dilanjut dengan pemberlakuan PSBB menyebabkan  sebagian besar perumahan pemukiman dan jlan lingkungan harus dijaga ketat. Itu artinya mempersempit ruang kerja pemulung untuk mendapatkan barang-barang bekas yang bisa dijadikan rupiah.
Sementara gelar Opesrasi Ketupat 2020  Covid-19 pembatasan lalulintas dilarang mudik mempersempit ruang manusia gerobak untuk dapatkan rezeki sedekah dari masyarakat yang akan pulang mudik.
Manusia gerobak, pada siang hari mereka adalah pemulung.

Manusia gerobak, beroperasi sebagian besar pada malam hari. Sebab pada malam hari banyak orang atau lembaga atau perusahaan yang melakukan sahur on the road.Sebenarnya kegiatan itu (sahur on the road) sangat mulia. Karena memberi makan dan uang bagi sesama.

Tim Media Kringserse masih melkukan perjalanan panjang untuk menelusuri  jalan-jalan malam menemui anusia gerobak yang hidup beratap langit diselimuti angin dingin,  dan terkadang hujan rintik.  Tim Media Kringserse membuka amal dan sedekah masyarakat untuk mereka,  bila ingin berpartisiasi peduli mereka,  bisa disalurkan melalyi Rek BCA no 5875188078 an. Ridwan Surianto. ***(TIM)
.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *