Selamat Datang di Website Kami

Jejak Bhayangkara,  Kisah Kompol Sutiono, Makamkan 57 Jenazah Covid dan Tidur di Atas Kuburan

09 July 2020

by Ridwan Surianto

PhotoCollage_1594259273481

KRINGSERSE.COM ( MALANG) – Tidak Semua orang mau dan rela menghabiskan waktunya untuk menjadi seorang relawan pemakaman jenazah Covid-19. Penuh resiko tertular dan juga harus siap setiap saat dibutuhkan, meskipun harus pulang menjalang subuh.

Hanya ketulusan hati seseorang yang mau melakukan hal tersebut. Komisaris Polisi (Kompol) Sutiono salah satu Anggota Kepolisian Polresta Malang, Jawa Timur yang bersedia menjadi relawan pemakaman jenazah korban Virus Corona. Ia bersedia menjadi relawan saat Kapolresta Malang Kombes Pol Leonardus Simarmata meminta beberapa angoota polisi menjadi relawan untuk memakamkan jenazah pasien Covid-19.

Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Satuan Intelijen dan Keamanan di Polresta Malang Kota ini tak pernah menolak untuk melaksanakan tugas mulia yang penuh resiko itu. Bahkan tak terbesit sedikit pun soal upah dan penghargaan di kepalanya, ketika menjadi garda terdepan dalam proses pemulasaran jenzah Covid-19.

Tidur di TPU

Hati kecilnya bahkan sempat takut untuk menjadi relawan jenazah korban virus tersebut. Namun setelah mendapatkan masukan dengan menerapkan standar pemakaman yang ketat dari para dokter, ia iklas melaksanakannya. Hanya doa yang menjadi pengawalnya, agar terhindar dari penularan virus berbahaya itu.

“Iya, siapa yang nggak takut tertular? Di awal saya benar-benar takut. Tapi saat komunikasi dengan dokter gimana caranya supaya tidak kena. Yang pertama safety. Untuk urusan muka harus betul-betul rapat. Setelah memakamkan tangan harus dimasukkan ke cairan alkohol 70 persen. Hampir setiap hari seperti itu dan saya pun akhirnya terbiasa sampai sekarang,” terang Kompol Sutiono, Rabu (8/7/2020).

sekarang,” terang Kompol Sutiono, Rabu (8/7/2020).

Ia bersama relawan lainnya harus menjaga waktu istirahat karena jika kelelahan dapat mengurangi daya tahan tubuh. Apalagi ia kerap memakamkan lebih dari satu jenazah dalam sehari. Bahkan pemakamannya kadang dilakukan pada malam hari dan dini hari.

Jika fisiknya merasa begitu lelah, Sutiono pun tak mempermasalahkan untuk tidur diatas kuburan. Itu dilakukan demi menjaga atau melaksanakan SOP jenazah pasien Covid-19 yang harus dimakamkan maksimal empat jam setelah meninggal.

“Benar-benar penting menjaga daya tahan tubuh kita untuk terus fit. Stamina harus bagus. Contoh jenazah ini dimakamkan disini, lalu yang lain di TPU berbeda dan begitu yang lainnya. Jarak jauh, tetap harus kita lakukan pemakamannya. Bisa sampai malam dan dini hari. Tidak mungkin balik ke rumah, kalau memang lelah, ya sudah tidur di situ (Diatas Nisan),” jelas Sutiono.

“Manfaatkan waktu sambil nunggu kabar lagi, kadang saya manfaatkan waktu untuk istirahat di lokasi itu (Pemakaman),” sambung Sutiono.

Kompol Sutiono mengerjakan semuanya dengan iklas. (Foto ; PMJ/Dok Pri Sutiono).

Makamkan 57 Jenazah

Selama Pandemi Covid-19, Sutiono rutin untuk berangkat pagi hari. Pulang pun sudah terbiasa hingga malam hari, bahkan dini hari sampai menjelang subuh. Dalam sehari, ia pernah memakamkan tiga sampai lima jenazah korban Covid-19 dengan lokasi berbeda.

“Sudah biasa ya, jadi saya berangkat pagi dan pulangnya menjelang subh atau bahkan pagi lagi. Istirahat sebentar, lalu ada telepon lagi untuk tugas selanjutnya. Sudah biasa dan saya selalu siap,” jelas Sutiono.

Bahkan ia sampai sering meninggalkan kontrakannya yang berada di Jalan Ciliwung, demi mengawal dan memakami jenazah. Pria asal Kabupaten Lamongan, Jawa Timur ini selalu berada diantara relawan dari public safety center (PSC) 119 dan petugas pemakaman lainnya disaat ada proses pemakaman.

Selama pandemi Covid-19, sudah lebih dari 57 jenazah korban Covid-19 yang ia bantu proses pemakamannya. Bahkan dalam satu kesempatan, ia pernah merasa sedih melihat jenazah yang terlalu lama menunggu pemuka agama, baik itu ustadz maupun pendeta untuk mendoakan proses pemakaman. Mendatangkan pemuka agama untuk mendoakan pernah dirasa sulitm dan ia bersama rekan-rekannyalah yang langsung mendoakan jenazah.

“Selama Pandemi Covid-19, kalau saya sendiri sudah memakamkan sekitar 57 jenazah korban Covid-19. Dan ada pengalaman yang membuat hati miris. Kemarin kami tunggu pendeta nggak datang, menunggu ustadz juga begitu. Akhirnya ya sudah lah anggota saya yang memimpin doa lalu kami kubur. Karena tidak bisa berlama-lama memakamkan korban corona ini,” kata Sutiono.

Kompol Sutiono bersama teman relawan lainnya. (Foto : PMJ/Dokpri Sutiono).

Bekerja Untuk Kemanusiaan

Ia tetap selalu berpikir positif dan selalu berusaha menghibur diri dengan merasa bahagia. Ia tak mau mengeluh dengan apa yang dikerjakannya saat ini. Baginya ini adalah tugas mulia untuk kemanusiaan.

“Saya iklas mengerjakannya. Ini untuk kemanusiaan. Untuk memakamkan pasien Covid-19 itu butuh prosedur tersendiri, dan saya sudah bisa melaksanakan itu sesuai dnegan prosedur yang ada,” tandas Sutiono.

Tidak hanya memakamkan saja, Sutiyono juga harus memastikan alat pelindung diri (APD) yang dipakai oleh petugas sesuai atau tidak. Dia terus mewanti-wanti untuk mengenakan APD berstandar agar tidak tertular virus corona.

“Saya selalu cek APD-nya sesuai atau nggak. Karena kasihan kan kalau sampai mereka tertular,” papar Sutiono.

Cara Humanis

Tugas lain Kompol Sutiono selain membantu proses pemakaman dan mengingatkan standar APD, sebagai Anggota Polri ia juga mendapat tugas untuk mengawal dan mencegah penolakan pemakaman jenazah Covid-19 oleh warga dan keluarga korban.

“Kalau ada yang nolak, tentu kami jelaskan secara humanis. Klau ada keluarga yang meminta untuk ke rumah dulu, kita laksanakan dengan syarat peti tak boleh dibuka. Dan saya juga harus mengingatkan pihak keluarga tentang protokol pemulasaran jenazah kepada keluarga pasien yang belum memahami aturan. Meski pun kadang sulit menjelaskannya, namun pelan-pelan saya berusaha agar keluarga memahami,” tandas Sutiono.

Sutiono tak pernah bosa untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, keluarga korban terkait protokol kesehatan dan protokol saat pemulasaran jenazah. Tahap demi tahapnya ia jelaskan serta bahaya saat tertular. Hal ini agar dipahami masyarakat sehingga bersama-sama bisa menekan bahkan menghilangkan Virus Corona (Covid-19) dari wilayahnya secara khusus dan Indonesia secara menyeluruh.

“Saya berharap, masyarakat benar-benar memahami dan melaksanakan protokol kesehatan secara baik. Harus disipiln demi kesehatan diri, keluarga dan lingkungan. Dengan begitu kita semua sehat dan bisa kembali hidup normal,” harap Sutiono. ***(ZUL/WAN/HDI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *