Selamat Datang di Website Kami

POLISI AKAN TINDAK TEGAS, HARGA MASKER DI PASAR PRAMUKA MELAMBUNG 500%, PILIHAN SIMISKIN BERAS ATAU MASKER?  

30 March 2020

by Ridwan Surianto

ANTISIPASI PENYEBARAN VIRUS CORONA: Calon pembeli memilih masker di Pasar
Pramuka, Jakarta, Senin (2/3/2020). Setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi)
mengumumkan dua pengidap virus corona di Indonesia, banyak masyarakat
mendatangi apotek dan toko kesehatan untuk membeli masker dan cairan
pembersih tangan sebagai antisipasi penyebaran virus corona, namun banyak
toko yang kehabisan stok karena permintaan meningkat. FOTO: MI/ BARY
FATAHILAH

Kringserse.com-Jakarta :  Bila sejumlah Mall dan pusat perbelanjaan di ibukota tutup,  pemandangan berbeda 360 derajat dengan suasana di kawasan Grosir alat kesehatan dan obat-obatan di Pasar Pramuka,  Jakarta Timur yang selalu dipenuhi pengunjung secara berdesakan.

Anehnya,  harapan masyarakat yang datang ke pasar pramuka hanya menjadikan pesta untung bagi  ” PEMAIN ” ditengah bencana wabah virus Corona (COVID-19), alias  menari diatas penderitaan masyarakat di Negeri ini.

 

Pasalnya,  mereka yang datang dari luar Jakarta, Pasar Pramuka merupakan kawasan pasar grosir  alat kesehatan berharap harga terjangkau,  ternyata jauh dari harapan dan kenyataan.

” Ya, ko mahal banget ya, bagaimana kita orang miskun bisa beli masker,  isi 50 aja harganya 550 ribu,  ” ujar seorang ibu bersama tiga orang ibu berasal dari Tambun.

Betapa tidak, Masker  merek ” SENSI ” harga normal persatu boks berisi 50 pic sekitar Rp. 30.000 – Rp.  50.000 melambung  500 persen mencapai Rp. 570.000-Rp.600.000, sementara produk masker dibawah standar  berkisar harga diatas Rp. 375.000.

Dalam penelusuran Tim Media Kringserse selama satu hari (Sabtu/28/3/2020) di sebagian besar toko di dalam Pasar Pramuka tertulis  di dean toko ” Masker Kosong “.

Sulit Mencari di Pasaran dan sekalinya dapat,  beli Satu Boks Masker seharga Rp 550 Ribu.

Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Pramuka Edi Haryanto menduga mahalnya harga masker di Pasar Pramuka, Matraman, Jakarta Timur, disebabkan karena banyaknya oknum pedagang yang ‘bermain’.

Hal itu bisa terjadi kala seseorang hendak memborong semua masker yang dijual di salah satu toko yang disinggahinya.

“Pada kondisi sekarang, harga sebenarnya tergantung pada masyarakat sendiri. Kalau saudara-saudara datang ke toko, memamg sebetulnya stok barang ada, stok barang cukup. Tapi ketika saudara-saudara seperti sangat butuh,  seolah-seolah akan menborong keseluruhannya, maka banyak tangan yang bermain,” ucap Edi di lokasi, ketika mendampingi Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus bersama Dirkrimsus dan Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Pol.  Arie Ardian Rishadi ketika melakukan  grebeg dan Sidak Operasi Pasar di Pasar Pramuka, Rabu (4/3/2020)silam.

Seperti temuan kepolisian setelah melakukan sidak kepada para pedagang di Pasar Pramuka.

Edi menyatakan, bahkan banyak tangan yang saling melempar barang sehingga harganya melambung tinggi.

 

Toko Masker Kosong,  Ditawarkan Pedagang Diluar

Sejumlah toko yang di datangi tim,  mengatakan masker SENSI “KOSONG”, sementara di sejumlah toko yang malu-malu kucing menyelipkan sample boks SENSI , ketika pembeli memaksa maka harga pun dipatok Rp. 570.000.

Sementara tim terus menelusuri lorong pertokoan,  dan orang-orang yang berada di sekitar anak tangga utama Pasar Pramuka.

Ketika tim mencoba mencari masker,  beberapa orang seakan memberikan kode, tim pun dibawa  pinggiran toko dekat parkiran samping sisi Barat Pasar Pramuka.

” Kalau abang mau ada  masker sensi harganya 570.000, ” kata seorang bertopi yang menyuruh rekan untuk mengambil barang

Barang  itupun bertahan di harga Rp. 550.000,-.

Tim terus menelusuri lorong lain,  ternyata menurut sumber yng tidak mau disebutkan namanya, semua orang di kawasan Pasar Pramuka adalah Pemain.

Penelusuran Tim lbukan hanya harga masker yang melambung tinggi, suplemen vitamin dan  bahan cairan disinfektan juga cairan sanitasi cuci tangan.

 

Alat medis yang sangat dibutuhkan  sebagai pengukur suhu tubuh NO CONTAK sistem digital (THERMOMETER GUN) lebih gila lagi.  Jika harga normal per satu unit THERMOMETER GUN kisaran  Rp. 450.000 – Rp. 870.000 kali ini dibndrol dengan kisaran harga diatas Rp. 4,5 juta – 6 juta.

 

Langkah Kepolisian

Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Arie Ardian Rishadi

Menurut Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Pol Arie Ardian Rishadi, S.I.K ketika dikonfirmasi,  pihak Kepolisian sudah beberapa kali  SIDAK dan melakukan Operasi Pasar,  juga Razia terhadap “Pemain”, namun selalu bermain “Kucing-kucingan”.

” Iya,  kemarin kita datang (ke lokasi pasar pramuka),  sudah pada lari (pemain-red),  ” kata Kombes Pol Arie Ardian kepada tim kringserse.com.

Sebelumnya,  Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jakarta Timur sudah sempat mensurvei.

Sejumlah distributor yang menjual ke pedagang dengan harga yang cukup tinggi, sehingga menyebabkan pedagang juga menaikan harga masker.

Polda Metro Jaya sudah membuat surat edaran kepada PD Pasar Pramuka ubtuk disampaikan kepada  seluruh pemilik toko dan pedagang kaitan dengan  peesediaan dan standar harga, tetapi ada beberapa toko kendalanya masih ada distributor-distributor yang jual ke toko-toko dengan harga tinggi. ” Kami dari Polda dan stake holder terkait bersama-sama memberi imbauan ke masyarakat termasuk distributor dan penimbun,” tuturnya.

Kombes Arie menegaskan polisi tidak akan memberikan toleransi bagi distributor maupun pedagang yang terbukti melakukan permainan harga masker.

“Kami mengimbau kepada para produsen, distributor, termasuk para sales agar tidak memanfaatkan situasi ini untuk mencari keuntungan secara pribadi, kalau kami dapati kami akan tindak tegas,” ucap Arie.

Pilihan  Si Miskin Beli Masker atau Beras? 

Usai menelusuri lika- liku permainan harga alat kesehatan, Tim Kringserse mencoba duduk dianak tangga, mata  tim tertuju pada seorang pria separuh baya bersama seorang remaja mengenakan koko dan sarung.

Tim mencoba mencari tahu,  ternyata pria itu bersama santri putra datang dari daerah pantura batas Tangerang dan Jakarta Barat.

Ustad Mus, (nara sumber tidak ingin disebutkan nama lengkap dan nama Pondok Pesantren) sengaja datang ke pasar pramuka untuk membeli masker  kebutuhan para santrinya di sebuah pondok pesantren Salafiah.

Mus bertutur,  pondok pesantren yang berdiri belasan tahun itu menerima santri dari warga tidak mampu, karena itu mereka tidak dipungut biaya apapun, ” Bagi saya, ank-anak itu datang bersama orangtua atau walinya,  dengan data identitas jelas,  pakaian dan makan  disediakan,  tanpa biaya,  tugas santri  belajar baca Qur’an, menghafal dan khatam, setelah itu baru kajian isi al Qur’an,  ” tytyr Ustad Mus.

Dikatakan Mus,  kebutuhan keseharian di peroleh dari usahanya berdagang,  dan sebagian dari para donatur. Meskipun,  kegiatan pondok pesantren diliburkan,

Mus harus memastikan kesehatan santrinya di rumah keluarga santri masing-masing,  caranya  terus silaturahmi,  meskipun harus tetap berjaga dan mematuhi peraturan pemerintah dan maklumat Kapolri perihal penceghan wabah virus corona (Covid -19).

” Saya harus mencari masker untuk para santri,  karena mereka harus selalu sehat, rencananya masker itu akan saya  distribusikan,  diantar ke rumah -rumah keluarga santri yang dekat -dekat saja, sekalian antar beras walaupun hanya beberapa liter saja, ” katanya.

Bagi Mus silaturahmi yang dilakukan sekaligus menyampaikan sosialisasi kepada keluarga santri tebtang himbauan pemerintah dan Polri dalam upaya pencegahan penyebaran virus Corona (Covid-19).

Mus pun kerap menyampaikan pesan untuk tetap belajar dirumah,  jangan keluar rumah bila tidak penting dan mendesak,  jaga kebersihan, jangan tinggalkn sholat dan baca Quran,  dan terus berdoa,  tetap semangat  dengan harapan wabah Corona segera berakhir dari negeri ini.

Saat ini,  bagi Mus dan putra nya itu tiada pilihan lain,  bila beli masker  seharga 570 ribu per satu boks,  isi 50 pc,  artinya  harga  1 pc masker itu  Rp. 5.700,- dan itu setara dengan harga setengah liter beras.

Hidup ditengah kondisi wabah virus corona,  buat warga miskin  hanya ada dua pilihan beras atau masker.

Bagi kaum pekerja yang punya  gaji tetap setiap bulan, tentu akan bed dengan kaum pekerja lepas,  yang hanya mengharapkan hasil kerja harian,  sementara harus bayar kontrakan,  sewa,  listrik dan kebutuhan makan harian.

Mus dan putranya terpaks harus kembali ke pondok pesantren dengan mengendarai sepeda motor.

Sebelumnya, Tim mohon izin untuk bersilaturahmi mengunjungi pondok pesantren.  ” Kami mohon,  jangan difoto dan diekspose ya mas, ” kata Mys wanti -wanti kepada Tim media Kringserse.

Dengan menempuh jarak sekitar 50 km melintasi pinggiran kawasan Bandara Soekarno Hatta kami pun sampai di  sebuah pondok pesantren yang sederhana,  asri dan jauh dari keramaian kota dan polusi udara.***(WAN)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *