Selamat Datang di Website Kami

Senin 14 September 2020, PSBB Total Diberlakukan di DKI, Berharap Titik Terang Covid-19

12 September 2020

by Ridwan Surianto

IMG-20200503-WA0081

Tidak mengalami kemajuan, Indonesia justru kembali ke titik awal seperti pada awal pandemi Covid-19 muncul. Titik terang tampaknya masih belum terlihat.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah memicu badai politik sekaligus memicu penilaian ulang proyeksi pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh, dengan memerintahkan PSBB.

“Kami tidak punya pilihan lain selain menarik rem darurat,” tegas Anies Baswedan, atas kebijakan PSBB serupa awal tahun ini yang dibuatnya.

KSAD dan Wakapolri serta jajarannya menyambangi Balai Kota untuk bertemu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. .

Walaupun tidak jelas mengapa ia belum berunding dengan pemerintah pusat, Anies tampaknya bertindak atas peringatan dari para ahli medis bahwa tanpa PSBB baru, rumah sakit dapat segera kewalahan.

Tetapi, saat ditanya apakah keputusan itu dapat dibatalkan, seorang pejabat yang berwenang mengatakan kepada wartawan, “Saya pikir keputusan itu harus tetap berlaku karena pemerintah tidak ingin membuat orang bingung.”

Langkah terbaru itu (yang juga akan mempengaruhi provinsi sekitar Jawa Barat, red) dilakukan seiring pemerintah yang dipimpin Presiden Jokowi berjuang untuk mencegah Covid-19 sambil berharap datangnya vaksin yang diedarkan secara luas sekitar tahun depan.

“Telah mengungkapkan sekali lagi dilema yang dihadapi Jokowi dan para penasihatnya sejak awal krisis, menangani virus corona di satu sisi dan mencoba meredam kejatuhan ekonomi di sisi lain,” tulis John McBeth di Asia Times.

Kekesalan Menko Perekonomian

Tentu saja, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto jelas kesal dengan tindakan Anies yang mengatakan penting untuk mengetahui kapan harus menerapkan “gas atau rem” untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal dan perekonomian.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keterangan pers (Foto: Setpres)

“Dengan Jakarta menyumbang sekitar 20 persen dari produk domestik bruto (PDB), para analis sudah memperingatkan bahwa keputusan tersebut dapat menyebabkan ekonomi berkontraksi untuk kuartal ketiga berturut-turut dan. Tergantung pada durasi PSBB, mengancam harapan untuk pemulihan pada 2021, tulis John McBeth kembali.

Saat ini, proyeksi pertumbuhan setahun penuh bervariasi antara -1,1 persen hingga +0,2 persen.

Pesan yang membingungkan (titik lemah pemerintahan Jokowi, red) telah mempersulit para analis dan pengamat untuk menguraikan strategi pandemi pemerintah. Pada akhirnya, rencana pemerintah hanya dapat diartikan sebagai holding action.

Ditanya apakah itu bisa disebut penahanan, seorang pejabat pemerintah yang memberi pengarahan kepada koresponden tentang pandemi ini lambat menanggapi. Selanjutnya, pejabat pemerintah itu menjawab: “Tidak, ini normal baru”, istilah populer untuk mengenakan masker dan menjaga jarak secara fisik.”

TNI-Polri gelar rapat koordinasi “Pelaksanaan Protokol Keamanan Tatanan Normal Baru Covid 19” di Kabupaten Bekasi.

“Normal baru telah gagal total,” ungkap seorang diplomat senior, mencatat bahwa walau banyak pekerja telah mengenakan masker di jalan, mereka lengah begitu mereka mulai berbaur dengan sesama pegawai di kantor atau pabrik.

Grafik yang Membingungkan

Selain tindakan pemerintah, aliran grafik dan gambar yang membingungkan setiap hari telah lama menjadi titik perdebatan.

Tetapi data resmi masih menjadi satu-satunya tolok ukur untuk mengukur wabah dan dampaknya. Para skeptis, termasuk banyak ahli epidemiologi, mengklaim angka sebenarnya dari infeksi yaitu lima, delapan, atau sepuluh kali lebih besar dari 210.000 kasus yang diakui secara resmi. Tapi pandangan yang berlawanan itu tetap tidak bisa diandalkan.

Sudah berbulan-bulan seperti ini, tetapi baru-baru ini tingkat infeksi baru resmi melonjak menjadi 3.000-3.800 per hari, seiring bisnis secara bertahap dibuka, dan Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya kembali ke keadaan normal yang padat.

Pengamatan waktu menunjukkan lonjakan kasus dapat ditelusuri kembali pada jeda liburan pertengahan Agustus, serupa dengan yang terjadi di Jawa Timur selama libur Lebaran Mei lalu.

Covid-19 Tidak Terkendali

Walaupum jumlah kasusnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan Amerika Serikat, Brasil, dan India, komunitas medis Indonesia yakin virus Covid-19 tidak terkendali.

“Kata kolega saya berpikir begitu,” ujar seorang spesialis terkemuka di mana namanya dirahasiakan ini. Dan mereka sangat ketakutan.

Jumlah kematian resmi Indonesia sebesar 8.336 meninggalkan negara terpadat keempat di dunia ini di tempat ke-19 dalam daftar kematian Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Namun dalam laporan perusahaan, Jakarta Globe minggu ini mengatakan, data pemerintah kota menunjukkan 32.110 penguburan dalam delapan bulan pertama tahun ini, dibandingkan dengan 33.649 untuk seluruh 2019, angka kematian tertinggi dalam satu dekade.

Ratusan Pemakaman Terjadi di Jakarta

The Jakarta Globe melaporkan 157 pemakaman sehari pada Agustus saja, dua kali lipat dari rata-rata historis bulan ini dengan 82 pemakaman, menurut catatan balai kota sejak 2010.

Di antara mereka yaitu beberapa dari 109 dokter yang telah mengorbankan nyawa mereka selama pandemi. Dan, negara sangat kerugian lantaran hanya mempunyai delapan dokter per 10.000 orang.

Team Direktorat Samapta Polda Metro Jaya saat laksanakan proses pemakaman

Seperti banyak pemimpin dunia, Presiden Jokowi terus melakukan tindakan penyeimbangan, yang sering dikecam karena tidak cukup memperhatikan krisis kesehatan, dalam upayanya untuk membatasi pengangguran dan menjaga agar ekonomi tetap bertahan.

“Mpengelola negara berpenduduk 270 juta orang tentu saja sulit, tetapi menangani pandemi tidak memiliki buku panduan, terutama bagi seorang pemimpin dari desa, yang pandangannya tentang dunia sering diukur dengan investasi asing yang dapat dikumpulkannya, lanjut John McBeth.

Kesalahan Langkah

Tidak mengherankan bila tim Jokowi telah melakukan banyak kesalahan langkah, yang terbaru adalah klaimnya bahwa virus Covid-19 akan mencapai puncaknya pada akhir bulan ini dan vaksin akan tersedia pada akhir tahun.

Sekarang hal itu terlihat seperti angan-angan. Begitu pula dengan keyakinannya bahwa ekonomi akan mulai pulih dalam dua bulan terakhir tahun ini, memberikan negara ini kesempatan pertumbuhan lima persen pada 2021. PSBB baru memperkuat pandangan bahwa pemulihan akan memakan waktu lebih lama.

Presiden Jokowi saat Rapat Terbatas Persiapan Pelaksanaan Pilkada Serentak (Foto:Twitter @jokowi)

Keluhan utama selalu kurangnya pengujian dan mengapa pemerintah tidak memberikan prioritas yang lebih besar. Dengan total 2,5 juta tes, itu masih menjadi salah satu yang terendah di dunia dalam persentase populasi, jauh di bawah standar WHO untuk satu tes per 1.000 orang.

Kenaikan Pasien Positif

Anies mengungkapkan Minggu ini 18,4 persen dari mereka yang dites terbukti positif terkena virus, dibandingkan dengan Jakarta 13,2 persen.

Kedua angka itu jauh lebih tinggi dari apa yang telah dilaporkan oleh Kemenkes dan jauh melebihi tolok ukur 5 persen dari WHO untuk pelonggaran pembatasan sosial.

Keluhan lain yaitu pesan campuran yang konsisten dari Presiden Jokowi dan para pemimpin nasional dan daerah lainnya, banyak di antaranya tampaknya sangat menentang protokol kesehatan yang diperlukan untuk membatasi penyebaran virus.

Bahkan ada kekhawatiran bahwa gubernur dan wali kota mungkin menekan angka yang diteruskan ke Kemenkes dan Satgas Covid-19 nasional, untuk meningkatkan peluang mereka dalam pemilihan daerah yang dijadwalkan pada Desember mendatang.

Agustus Bulan Terburuk

Agustus merupakan bulan terburuk sejauh ini dalam hal kasus baru Covid-19, dengan rata-rata 600 infeksi per hari di Jakarta saja. Itu adalah peningkatan 87 persen selama Juli. Sisi baiknya, tingkat pemulihan nasional sekarang 72,1 persen, lebih baik dari rata-rata global 69 persen, demikian dilansir dari Asia Times.

Setelah tampak hampir kebal terhadap virus pada bulan-bulan awalnya, Bali sekarang menjadi provinsi kedelapan yang mengumpulkan lebih dari 5.000 infeksi dengan tingkat hunian ranjang rumah sakit sebesar 98 persen, tertinggi di negara ini.

Pemberlakuan Jam Malam

Berdasarkan data Kemenkes, 11 dari 34 provinsi memiliki tingkat hunian tempat tidur yang melebihi rata-rata nasional sebesar 43 persen, indikasi di mana sebagian besar infeksi Covid-19 tampaknya terkonsentrasi di seluruh Nusantara.

Secara keseluruhan, pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan tanggapannya terhadap wabah baru virus, dengan unit Covid-19 yang baru dibentuk di setiap distrik diberdayakan untuk menerapkan pembatasan darurat bila dianggap perlu.

Dalam beberapa pekan terakhir, Depok dan Bogor memberlakukan jam malam dari senja hingga fajar, sebagai tanggapan atas meningkatnya infeksi.

Sekarang seluruh kota menghadapi penguncian, di mana Masjid ditutup untuk jemaah dan pekerja kantor disuruh bekerja dari rumah. Ini menjadi pola buka-tutup yang sudah tidak asing lagi, ujar John McBeth. (Dbs/ Asia Times/ Fer/wan).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *